Kumpulan Puisi IMPIAN USAI
KUMPULAN PUISI IMPIAN USAI
Impian Usai
Kumpulan Puisi
@ Wayan Sunarta
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
Penyunting : Wayan Sunarta & GPS
Perwajahan : GPS
Foto sampul : Feybe I. Mokoginta
Diterbitkan pertama kali oleh Kubu Sastra
Jl. Kroya No.12 Denpasar Timur, Bali
E-mail : myjengki@yahoo.com
Cetakan pertama: Agustus 2007
Kepustakaan Nasional RI
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Wayan Sunarta
Impian Usai
ISBN: 978-979-16405-0-3
DAFTAR ISI
Pengantar Penyair 3
PERTEMUAN DENGAN PUISI 3
Suaramu di Pintu 6
Syair Mawar 7
Kasih Ilahi 8
Di Puncak Gunung Agung 9
Kau Tak Ada 10
Nyanyian Menara 11
Suaramu di Pintu 12
Jejak Angin Pada Pasir 13
Perjalanan 14
Memburu Matahari 15
Pantai Candidasa 16
Tubuhku Hilang 17
Meditasi 18
Perempuan 19
Terbakar Api Suci 20
Laut Jiwamu 21
Amsal Batu Apung 22
Takdir Sunyi 23
Hidup Hanya Kekosongan 24
Taman Bunga 25
Kesiman 26
Muara Waktu 27
Puisi dari Sungai 28
Kau Kutuk Sunyi Jadi Batu 29
Kusamba 30
Toyabungkah 31
Lintas Batas 32
Usai Tarian 33
Ibu 34
Ijogading 35
Lovina 36
Jimbaran 37
Pesisir Jimbaran 38
Buka Sedikit Jendela 39
Pura Luhur Uluwatu 40
Situs Candi Gunung Kawi 41
Perempuan Kupu-kupu 43
Buyan 44
Hutan Cemara 45
Pelabuhan Buleleng 46
Bermalam di Toyabungkah 47
Malam Pengantin Pesisir Serangan 48
Di Jimbaran Aku Mengenangmu 49
Pantai Senggigi 50
Catatan Reklamasi Pantai Serangan 51
Lelaki Sunyi 52
Taman Tak 53
Satu Perahu 54
Taman Seroja 55
Malam Purnama 56
BirahiBiru 57
Penjaga Cahaya 58
Bangau Kertas 59
Kau pun Sampai 60
Potret Diri 61
Lorosae 62
Notasi Pantai 64
Lanskap Laut 65
Taman yang Kau Impikan 66
Laut Bali 67
Upacara Kelahiran 68
Upacara Lingga 69
Parangtritis 70
Fort Vreedeburg 71
Haya 72
Tanah Lot 73
Kamar 74
Dan Malam Kian Mendalam 75
Buka Sedikit Jendela 76
Gerimis Kupu-kupu 77
Bhisma 78
Bulan pun Layu 79
Di Tepi Tamblingan 80
Requiem 81
Taman Laut 82
Larik Ombak 83
Artupudnis 84
Bulan pun Layu 85
Bocah Bermain Ayunan 86
Aku Rindu Mariyuana 87
Kampung Terakhir 88
Malam Pantai Canggu 89
Bukit Venus 91
Penjaga Kata 92
Di Kafe Tera, Rawamangun, Jakarta 94
Menyusuri Jakarta Tengah Malam 95
Pantai Ancol 96
Dago 97
Menjaga Malam Braga 98
Requiem Juni 99
Suatu Waktu Aku Tiba di Rotterdam 101
Kucumbui Kau di Hampar Pasir 103
Lima Ribu Depa dari Amlapura 104
Tirtagangga 105
Capung Sayap Ungu 106
Arak dan Malam 107
Malam-malam Mabuk di Tirtagangga 108
Impian Usai 109
Surat dari Rumah Pantai 110
Sindhu 111
Perahu Tua 112
Taman Silam 113
Pengantar Penyair
PERTEMUAN DENGAN PUISI
Bagi saya, puisi merupakan suatu wilayah sublim, dari mana saya bisa belajar banyak hal, terutama kehidupan dan keindahan dalam maknanya yang tak terbatas. Mencipta puisi merupakan usaha menyusun mosaik kaca menjadi cermin, dari mana saya mencoba mengenali kembali kepingan-kepingan jiwa dan kenangan yang hilang, juga jejak-jejak perjalanan hidup yang tidak akan pernah saya tahu akhirnya. Di dalam puisi, saya mengalami proses, yang saya yakini mengarah pada penemuan jati diri.
Pertemuan dengan puisi merupakan karunia yang tak bisa dinilai dengan ukuran-ukuran material. Kalau pun puisi mendatangkan honor (yang tidak seberapa) atau mengantar penyairnya jalan-jalan ke sejumlah kota, diundang membaca puisi, menjadi pembicara pada seminar sastra, dibukukan, dibicarakan bahkan dimitoskan orang—bagi saya, itu hanya berkah dari pergaulan yang intens dengan puisi. Namun, puisi sendiri tetap merupakan kawasan sunyi, yang—meminjam sebaris puisi Frans Nadjira—hanya orang-orang tak waras yang berani menyeberangi batas angan milik penyair. Dan, saya beruntung menjadi bagian pergaulan orang yang “tak waras” itu.
Ketertarikan saya pada puisi bermula ketika saya masih duduk di bangku kelas dua di SMPN 8 Denpasar, tahun 1990. Masih membekas dalam ingatan, pada jam-jam istirahat saya suka menyelinap ke perpustakaan sekolah. Sebab uang bekal di saku jauh dari cukup untuk sekadar membeli semangkok bakso, yang saat itu merupakan makanan mewah bagi saya. Sebagai penghibur rasa lapar, saya cukup puas “melahap” lembar demi lembar buku yang saya sukai (biasanya kumpulan cerpen atau novel), hingga bel kembali berdentang.
Suatu kali, ketika asyik membongkar-bongkar rak buku di perpustakaan, saya menemukan Hari-hari Akhir Si Penyair karya Nasjah Djamin, yang menceritakan kehidupan penyair legendaris Chairil Anwar. Karena tertarik pada judulnya, saya lahap habis buku tipis itu dalam sehari. Akhirnya, saya terpesona pada puisi-puisi Chairil Anwar, pada sikap berkeseniannya, pada proses kreatifnya, pada gaya bohemian, eksentrik dan jalan hidupnya yang dramatis. Dan, “candu” puisi pun mulai bekerja pada jiwa remaja saya.
Sejak itu, saya suka mengkhayalkan diri sebagai penyair. Lantas saya mencoba merangkai dan menulis kata-kata indah yang saya bayangkan sebagai puisi. Hasilnya cukup melegakan diri saya. Buku tulis, sampul-sampul buku pelajaran, dan meja kelas menjadi korban pertama. Saat sekolah sepi, kadang-kadang saya suka menempel puisi-puisi itu di koran dinding. Keesokan hari, kawan-kawan gempar dan meledek saya habis-habisan, karena puisi-puisi itu dianggap terlalu gombal. Namun, saya tidak terlalu peduli, yang penting puisi telah mampu mewakili perasaan saya.
Memang, seseorang bisa menjadi penulis seringkali didasari pada kegemaran membaca. Sebelum mengenal perpustakaan sekolah, bacaan pertama saya kebanyakan komik, yang saya pinjam dari kakak sepupu. Saya menyukai cerita komik silat Tiongkok, silat Nusantara, Wiro Sableng, sampai kisah Ramayana dan Mahabaratha dengan gambar-gambar yang indah karya R.A. Kosasih. Saya sering larut dalam kisah dan imajinasi yang dibangun serial komik itu; bisa jadi saya menyukai momen-momen puitis dan romantisnya.
Memasuki dunia “putih-abu” di SMAN 3 Denpasar, tahun 1992, saya semakin tergila-gila menggauli puisi, sambil menjalani kegemaran mendaki gunung, menyusuri hutan, menyisir pantai dan bersepeda ke beberapa pelosok desa di Bali. Di sekolah, kebetulan saya terlibat dalam kelompok pecinta alam. Namun, sampai saat itu, saya belum menemukan pergaulan kreatif di bidang sastra. Saya asyik sendiri dengan dunia baru yang menggoda saya: puisi.
Setiap kali mendaki gunung, kemah atau menyusuri hutan dan pantai, saya suka membawa notes atau buku diary yang siap sedia menampung untaian kata-kata yang berkisah perihal keindahan alam, rahasia kabut, misteri laut, ketakjuban pada embun, kengerian akan kelam malam, pukau maut, pesona tuhan, kerinduan, kecemasan, sampai pada rasa putus asa sebab cinta tak terbalas. Hal-hal inilah yang seringkali membekas dan mengerak pada puisi-puisi saya kelak.
Seperti benih, bakat alam akan tumbuh subur bila menemukan wadah yang tepat. Begitulah, akhirnya saya menemukan pergaulan sastra yang sejak lama saya impikan. Percintaan dengan puisi pun semakin menggelora, seiring keterlibatan saya dalam berbagai kegiatan sastra di Sanggar Minum Kopi (SMK), sepanjang 1993-1995. Boleh dikatakan, di sinilah bakat, proses kepenyairan, pemahaman dan pengalaman saya dimatangkan, melalui diskusi-diskusi, kritik, pujian, pertemuan kreatif, apresiasi, motivasi, publikasi dan sebagainya. Pada masa inilah saya belajar menulis puisi yang benar-benar puisi, yang tidak sekadar mengandalkan bakat alam saja.
Kegemaran nongkrong di perpustakaan terus berlanjut, seirama rasa dahaga akan bacaan bermutu. Selain buku sastra, saya juga tertarik membaca buku-buku filsafat, relegi, antropologi, mitologi dan kisah-kisah kemanusiaan. Saat itu, minat saya pada puisi seakan mengalahkan segalanya, pun pelajaran di sekolah nyaris berantakan. Saya pinjam dan pelajari sejumlah buku teori dan teknik puisi dari kritikus dan penyair ternama. Saya berkenalan dan studi-banding dengan puisi-puisi Kirjomulyo, Goenawan Mohamad, Rendra, Abdul Hadi WM, Sapardi Djoko Damono, Frans Nadjira, Umbu Landu Paranggi.
Belakangan kemudian, wawasan dan pengetahuan puisi saya diperluas melalui pertemuan dengan para penyair dunia, lewat dua jilid buku Puisi Dunia (Balai Pustaka, cet.II, 1967) yang disusun M.Taslim Ali. Kemudian, saya tertarik dengan puisi-puisi Prancis modern, terutama keliaran puisi Arthur Rimbaud. Beberapa waktu, saya juga sempat menyerap teknik puisi dari karya-karya erotisme penyair Mexiko, Octavio Paz.
Perkenalan saya dengan puisi-puisi para penyair itu juga berkat diskusi dan pergaulan di SMK. Namun sayang, karena suatu persoalan interen yang tidak mampu diselesaikan, SMK terpaksa membubarkan diri pada Agustus 1995, tepat di usianya yang ke-10. Saya dan sejumlah kawan muda merasa kehilangan wadah yang sangat bermakna bagi proses kreatif kami. Meski SMK telah bubar, namun sampai sekarang para alumninya masih suka bernostalgia, saling mengunjungi, reuni, menggelar pertemuan-pertemuan kreatif, dan sebagainya. Bahkan, terkadang kenangan pada SMK menjadi suatu pembicaraan yang romantis dan sentimentil.
Tetapi, yang jelas, pengalaman dan pergaulan di SMK terus membekas dan menjadi semangat kreatif dalam diri saya untuk membangun pergaulan-pergaualan kreatif berikutnya. Misalnya, akhir 1995, saya bersama sejumlah kawan mendirikan Sanggar Purbacaraka di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Pada tahap awal, kami menggunakan tradisi, pola pergaulan dan kegiatan ala SMK, seperti menggelar lomba cipta dan baca puisi nasional, diskusi sastra, jalan-jalan kreatif mencari hawa puisi, dan sebagainya. Kemudian, pada September 2000, saya bersama beberapa kawan membentuk Komunitas KembangLalang, sebagai wadah kreativitas para pecinta dan pekerja sastra, teater dan seni rupa di Denpasar.
Saya percaya, komunitas dan pergaulan kreatif seringkali menjadi salah satu fondasi dan wadah untuk mengukuhkan dan menumbuhkan bakat, minat, obsesi, impian dan kecenderungan individu dalam suatu proses berkesenian. Justru dari interaksi dan komunikasi yang intens itu, pengaruh mempengaruhi dalam berkarya tidak lagi menjadi suatu yang tabu, melainkan tumbuh alamiah. Pencapaian “karakter” atau “ciri khas” dalam suatu karya, pada dasarnya juga berjalan seiring proses kreatif, kedewasaan, wawasan, pemahaman dan pengalaman berkesenian. Kalau pun ciri khas harus diperjuangkan, bagi saya, itu tidak lebih sebagai bagian dari sikap dan proses kreatif masing-masing individu yang sangat beragam.***
(Wayan Sunarta)
Syair Mawar
menembang bayang-bayang
senja telanjang
di pembaringan ilalang
menguak dinding masa silam
seakan melahirkan beribu lakon
yang belum tuntas dipentaskan
merabas belukar rimbun
menemukan sekeping bulan
tergantung di dahan palem
aku terlalu dungu memahami
warna mawar di antara deduri
begitulah segalanya kulafaskan
satu di antara beribu warna pelangi
yang hampir memudar
dan senja melahirkan beribu wajah
pada bulan-bulan merah
1992
Kasih Ilahi
sepi merambah malam
bulan mengelupas
samaran kalam
bunga-bunga gugur
serangga mengidungkan
kematian alam
dan kelelawar
menarikan tarian purba
sembari mereguk kasih
di tungku api perapian
kupersembahkan cinta ilahi
1992
Di Puncak Gunung Agung
ke arah mana angin meniup
pucuk-pucuk cemara
membawa malam pegunungan
dalam jiwa kembaraku
di manakah akhir perjalanan
memburu musim menjelajah rimba waktu
di manakah batas akhir perburuan
menyusuri kegelapan ruang jiwa
yang tak henti mengemban
dosa kelahiran
tak satu pun kutemui kebenaran
hingga aku bertambah yakin
segala yang fana
bermuara padamu jua
1992
Kau Tak Ada
di pesisir pantai
desah buih resah
memeram sunyi
pasir galau
di pusar angin
jiwa rindu
natap senja
karena cuaca
perahu menuntun
kenanganku
tiba di dermaga
kau lambaikan tangan
memanggil perahuku
kembali ke haribaan ibu
namun
kau tak ada
1992
Nyanyian Menara
bila aku menjelma air
mengikis cadas hatimu
ke mana lagi akan kualirkan gelisah
o, kau yang berbunga di ladang kering jiwaku
telah kubangun menara
dari rusuk-rusukku
agar kau dapat memandang lebih lapang
ke dalam diriku
(jantungku yang kau panah
masih menyisakan perih…)
namun apa artinya menara
bila bulan pun rebah
di punggung ilalang
mimpiku berbunga darah
matahari dibutakan awan
tapi jiwamu masih saja mesra
lelap dalam sunyiku
1993
Suaramu di Pintu
senja baru saja berangkat
meninggalkan tingkap
kudengar ketukan
di pintu
siapa bertamu?
kubuka pintu
tak ada sesiapa di luar
hanya desir dingin
aku balik ke bilik
mungkin angin
yang ngetuk
pintuku
1993
Jejak Angin Pada Pasir
telah kuakarkan gelisah
pada nadi laut
hingga menghunjam kalbu bumi
dan aku menari-nari memacu ombak
menjaring mentari yang terlelap
di pembaringan gulita
jukungku berlayar tanpa gairah
menyusuri jejak angin dan pasir
yang terlena di tengah percakapan purba
dan sayap-sayap kabut
menyesatkan mataku yang papa
hingga aku terdampar di pesisirmu
1993
Perjalanan
biarkan aku sendiri memburu sunyi
pada lubuk-lubuk laut tubuhmu
saat ikan-ikan gelisah dalam percintaan
atas ranjang ubur-ubur
nelayan-nelayan yang menadah angin
menebarkan jala-jala rindunya
pada pusaran jantungmu
namun kau begitu dalam mencumbu
bayang-bayang perjalananku
hingga kuda laut yang kutunggangi
tersuruk dalam ceruk sunyi jiwaku
1993
Memburu Matahari
matahari melintas di gigir senja
hanya sampai di batas pantai ini
kau tentukan langkahku
hingga tebing waktu
sia-sia kudaki
tangan-tangan gaib
menampar wajahku
aku terpelanting
terperangkap
dalam galau angin
mataku meluntur
laut kelabu
mulut ombak menganga
menerkam tubuhku
berwaktu-waktu kuburu matahari
yang membeku dalam jantungmu
namun kini tubuhku
menggumpal dalam ususmu
sebentar lagi habis kau cerna
1993
Pantai Candidasa
rinduku menetas di pasir
mengaca pada mata senja
kulihat bocah-bocah telanjang dada
berlari membawa kabar ombak
tubuh jukung menggeliat lelah
setelah semalaman mendulang kasih
rinduku melaut biru
menghitung debur waktu
yang menghanyutkan bayanganmu berlalu
wajahmukah itu, terhampar di biru lautan
dengan senyum melarutkan kenangan
rinduku terhempas di pasir
ombak menepi menggoreskan luka
di akhir lepas senja
tubuh jukung luluh
dalam lenguh buih
1993
Tubuhku Hilang
senja pucat
matahari
lenyap
di pusar kabut
dari atas bukit
bocah bocah
mengusung bulan
aku bersorak girang
tubuhku hilang
ruang remang
1993
Meditasi
mengarungi samudera putih cuaca
nelayan mengolah ombak
mengayuh biduk
pulau samar di kejauhan
bulatan tiram-tiram pasir
adakah lubuk persembunyian
bagi ikan-ikan yang luput
dari pukat nelayan
pengembara-pengembara dunia seberang
menyusuri lumut dan batu karang
akarmu akarku satu
berpaut dalam laut
aku mekar
aku bunga api
aku ubur-ubur cahaya
berenang menuju teduh
samuderamu
1994
Perempuan
rambutmu perempuan
kau gerai atas ombak
pasir-pasir memeram resah
dalam jiwaku menjelma sajak
bibirmu perempuan
kau lekatkan pada kangen
hutan-hutan basah dalam hujan
menjelma kenangan
menjadi sungai
mengaliri nadiku
perempuan dalam irama angin
menari bersama bunga-bunga senja
yang luruh ke tengah jiwa
diri pun hampa
pada senyum fana
1994
Terbakar Api Suci
ia yang terkutuk
dari pintu ke pintu
diam dalam bisu langit
kering dalam ladang-ladang hati
lewat lubang angin
lewat lubang jasad
ia melintasi perih
luka pembuangan
lihat, kucing hitam mabuk
dalam rohnya
mengais-ngais urat darahnya
dalam perih
luka pembuangan
ia terbakar api sucinya
1994
Laut Jiwamu
laut dalam jiwamu
menyanyikan resah bagi musim
dan malam kekosonganku
kau bangkitkan kenanganku
mendaki perbukitan hijau
yang terhampar pada dadamu
di mana kau sembunyikan wajah sungai
yang dulu bermuara pada jantungku
ketika kau tersedu sejauh pelayaran
karena rindu tak pernah berlabuh
kau perahu dalam lautmu
senantiasa merenungi angin
yang menghempaskan musim
ke pangkuan pantai
1994
Amsal Batu Apung
dari atas bukit
terlempar aku
ke sungai
di muara
anak-anakmu
memunguti diriku
mengusungku
ke atas bukit itu
lalu melemparku
kembali
ke sungai ini
selalu aku
terdampar
pada muara
yang sama
1994
Takdir Sunyi
mesti berapa musim lagi
kujelmakan takdir ini
takdirku senantiasa bernama adam
yang kesepian sejauh perih waktu
burung-burung tersesat
bermusim-musim dalam alir nadiku
pada bening keningmu aku bercermin
meneliti guratan masa silam
yang ranggas bersama buah-buah kutukan
o, begini buruk rupaku!?
angin liar menampar kesangsian
aku makin asing dari wajahmu
mesti berapa musim lagi
kujelmakan takdir ini
ular-ular bersarang dalam nafsuku
mengerami telur-telur hawa
dan dosa semakin hangat
dalam dekapan takdir sunyi ini
1994
Hidup Hanya Kekosongan
–untuk: k.s.–
kurelakan kau pergi
setelah cukup lama kita
bergandengan tangan
membentang hari
di taman melati
terbang kau bersama abu
membawa dunia milikmu
mengapa berduka?
akhirnya kita
mesti menerima
maut itu
—hidup hanya kekosongan
di luar dan di dalam jagat ini—
senyumlah
sambut mentari baru di dunia baru
aku pun senyum melepasmu
bersama kidung ombak
menuju samudera cahaya
1994
Taman Bunga
aku lahir
sebagai serbuk sari
angin menuntunku
menuju kepala putik
sudah nujuman
aku mesti mengigau
sendiri melintasi nyanyi serangga
tiba pada mimpi kepala putik
siul angin meresap ke dalam dahan
pohon bunga
menjadi apa aku dalam taman ini
kami damai dalam satu taman
tapi mengapa angin
mematahkan kepala putik
pemilik taman
memanen air matanya
sebagai serbuk sari
aku hanya bisa berduka
pada angin
1995
Kesiman
malam. burung kenangan
sayap-sayap pilu
termangu di sudut jalan
di muram cuaca
menyulam bayang
masa silamku
lembut tangan mawar
di banjar tohpati
bulan dengan rambut tergerai
menunggu lelaki pengembara
yang berumah dalam kata
akankah tiba
malam dalam genggaman mawar
burung kenangan. simpanan sunyi
fajar matahari
1995
Muara Waktu
dari darah dan air mata
aku susuri jalan yang kau buka
dengan perih. di lengan malam
kau panjatkan diam
aku tengadah kaku:
bintang meluncur menuju
muara waktu
dari mana aku
mau ke mana aku
kau menyembul dari rekah tanah
menjelma kematian dalam kematian
tangis bayi di lapar mulut malam
melebur haruku pada arus terakhir nafasmu
siapa akan meruwat
jagat yang sekarat?
biarkan aku mengigau
sampai jauh memburu jejak kasihmu
hingga batas penghabisan hayatku
biarlah bintang yang jadi isyarat perjalananmu
lebur dalam kering nadiku
dari darah dan air mata
aku berkayuh
menuju muara waktu
1995
Puisi dari Sungai
pada bening sungai
berkali-kali kuterka wajahmu
ada yang berubah selalu
dari kehijauan hati
kekasih tiba
kenangan berkilau
pada mahkotanya
pada bebatuan dan gemercik air
sepasang ikan memeram harum lumut
o, jiwa biru
patahan kayu yang dituntun sungai
dari mana aku bermula?
segalanya akan tua
namun aku ingin seperti ikan
bercinta dalam teduh sungai
tak peduli sang pengail selalu mengintai
bila saatnya tiba
aku pun patahan kayu
yang dituntun sungai
menuju muaramu
1995
Kau Kutuk Sunyi Jadi Batu
telah kususuri
setapak sajak
yang dulu kau lalui
sembari mereguk arak
atau mengulum kuntum
bunga rumput
di batas cemas
aku terjaga
dan bergegas
tiba di gubugmu
terpukau aku
kembang lalang
sempurna mekar
kesuir angin
dan jejak basah hujan
candi tua
dan matamu
pucat senja
menunggu waktu
luruh
dalam tubuh
o, jiwa berlumut
kau kutuk sunyi
jadi batu
bekal pendakianku
menuju puncak
paling nikmat
paling laknat
1995
Kusamba
deru laut luruh
memucat batinku
pesisir hanya angin
gerai rambutmu bergulung biru
jukung kecilku berkayuh di situ
ada yang sirna
jerit anak camar gemetar menunjuk kelam
melempar sunyiku ke gubug garam
dalam dadamu muara lenyap
kau pasir yang lupa tanah
ombak merangkak
memulung sisa kenangan
yang membuih di licin tubuhmu
sia
sia
nafasku sesak dicumbu waktu
duka mengental
melukis langit wajahmu
senja surut
tubuhmu
tubuhku
menguap
jadi garam
1995
Toyabungkah
–buat: s.t.a.–
dari jantung malam
lirih angin menyeru angan
penari berbibir embun
membujukmu memasuki
lorong hening
o, kabut yang mengurai rambut
di lembah batur
berapa sudah bibir embun
sesat dalam mulut malam?
peluh tubuh penari letih
menguap bersama lapar
dan lelah pendakian
kabut mencumbu danau
penari merintih
perih
mengekalkan malam
di jiwamu lebam
1995
Lintas Batas
di batas jiwa
aku terjaga
telah kuarungi sunyi
yang dulu kubangun dari
kuntum-kuntum bunga karang
tiba di pintu ombakmu
tertegun aku dalam nyanyi musim
sepucuk rindu hanyut
masih adakah bunga karang
yang mewangi?
desah ombak mengeja jejakmu basah
tiba di dermaga
kenanganku mengabur
dalam matamu desir senja suntuk
menghitung dingin yang ranggas
menimbun puing-puing silam
semakin mendendam rindu
akankah kau ikuti jejak sunyiku
menembang puisi-puisi bisu tanpa keluh
dengan debur laut di jiwa
kita terima kesunyian
sebagai bunga karang
bekal pelayaran menuju arah
paling perih
1995
Usai Tarian
lirih tarian kecak
meluruhkan lakon-lakon
hanyut entah ke mana
sesekali dengan diri
kita saling tak mengerti
tak tahu arah yang mesti ditempuh
usai perjalanan meletihkan ini
lumat masa lalu. basuh luka
dan rasakan
esok entah berupa apa
keasingan manusia,
gubug lusuh di sudut senja
keengganan memancar
deraan takdir
sandiwara tanpa jiwa
basuh kenangan
lumat kekasihmu
suara kecak luruh
senja lirih
melarung rama
dan sita
ngalir ke barat. ke barat
hanyut entah ke mana…
1996
Ibu
tak perlu kau risau, ibu
jejak langkah cintaku telah terhenti di sini
selalu saja ada bagian dari mimpiku
yang lindap di jalan-jalan kota
ibu, dengan kasih apa kau asuh aku
belajar paham akan cinta bumi
mempersembahkan ketulusan hati
bagi mereka yang selalu merasa lapar
jalan mana lagi mesti kutempuh
sebagai pecinta sekaligus pesakitan
aku telah merasa paham
sebagai bagian dari semesta alam
biarlah aku di sini, ibu
tak perlu kau risaukan lagi aku
1996
Ijogading
yang sunyi di sini
dibawa bunga hanyut
susuri sungai karma
ijogading. ijogading. ijogading
alir air hayat bumi makepung
aliri lara rindu lebai
rerimbun pohon pantun di pasisi
memukat kenangan nelayan
menyimak cengkerama kunang-kunang
di langit malam ijogading
bulan sabit menoreh sauh jiwa
saat batin zikir sembahyang
loloan timur. ijogading. loloan barat
nyaman abadi dipangku anak dara
rumah panggung memeram hangat tubuhku
si lebai perindu yang merinding haru
dengar burdah syair
lebai. ijogading. lebai
mengalir masuk nadimu
pusat ilham hayati
melepas jangkar rindu
melabuh diri di pangkuan bumi
ke muara. ke muara
lepas perjalanan
menemu haru cuaca
1996
Lovina
dan camar dan laut dan lumba-lumba
membagi air matanya bagi kita
pada desir senja
pohon ketapang muda mengigau
melepas usia pasir garam
aku dipukau laut di matamu
penuh pusaran tak terduga
ada yang asing
terlalu aku mengenal laut
terlalu rindu terlalu dungu
terlalu pelabuhan
daun ketapang muda luruh
angin betina
menyeretnya ke tengah ombak
ada apa dalam diriku
sesuatu menyungkupi batin
lovina, tak tahu aku
dengan apa mesti
kuabadikan pertemuan ini
dengan puisi tak jadi
atau dengan lagu pilu
satu hal telah pasti
kita akan kembali
pada sunyi diri
lovina, tak tahu aku
apa yang mampu kulakukan
bila memuncak rindu
jaga dirimu
dan kenangan kita
1996
Jimbaran
kau bikin aku gila
bentangan bukit kapur
lintasan hutan bakau
yang dalammu sembunyi
perawan puisi
beri aku asin laut
agar lepas hausku mengulum rindu
telah tiba segalanya
mainan takdir
tanpa akhir
aku penunggang angin payau
datang dari timur
letih ngembara jauh
beri aku berteduh di gubug garammu
biar sempurna kelahiranku
sempurna aku bernama manusia
kau bikin aku gila,
bunga manja…
sebelum angin barat menebar benih
atas bukit kapurmu
bila susah aku menjangkaumu
aku tetap menunggu
sampai akhir waktuku
1996
Pesisir Jimbaran
–buat: a.e.s.–
di tanah cuaca tanah tropika
kita terlahir
menuntun perjalanan sebuah sejarah
ayu, terlalu banyak saudara kita
yang jadi berjiwa budak
terlalu banyak
tak henti angin asing datang gemuruh
menggusur tanahmu, rawa bakaumu,
bukit kapurmu, pasir putihmu
mereka renggut
purnama yang terbit
dari indah mata bersitatap
redup saat laut surut:
di rawa-rawa, di bakau-bakau
di karang-karang, di pasir-pasir
hotel-hotel menjalar bagai parasit
terlalu banyak
yang tak bisa hidup sahaja
di pesisir ini, ayu, kita rindu nelayan berlagu
pulang dari laut jauh
kita kenang penyu bertelur saat bulan penuh
kita kangen manggang ikan di bawah gemintang
bercengkerama dengan angin garam
di malam langit jimbaran
kita hanya bisa kangen
tak mampu berbuat apa
namun ada kupunya mimpi
menjaga tanah bali
dalam rangkuman kasih puisi
1996
Buka Sedikit Jendela
Pura Luhur Uluwatu
beratus-ratus tahun
ketika sunyi kali pertama
tersentuh tangan sang kawi
suara tekukur di bukit kekeran
masih saja karib dengan tangga-
tangga batu berlumut
dengan kera-kera penjaga
kawasan dewataku
sayup-sayup laut melantunkan
mantram gayatri
bunga-bunga kamboja suci
aroma lumut tangga batu
dan debur ombak
mengantar kembara doaku
hingga ke tebing karang
hingga ke kerang semadi
lewat sudah ratusan tahun
bunga-bunga pudak masih saja
wangi dalam kakawin sang kawi
Nirartha semadi dalam kerang mutiara
dari pantai ke pantai menetaskan sunyi
di pesanggrahan dewata
tempat kesuir angin menemu Ibu
1997
Situs Candi Gunung Kawi
bayangan candi:
wujud masa silam yang meleleh
ke dalam genang kenangan bocah gembala
penggalan kepala patung terjatuh
menilik senja
menebar pesona wangi yang raib
menjalar dalam alir nadiku
sungguh terasa sunyi
menelusuri setapak berliku,
setapak masa silam
yang meranggaskan aku ke bumi
beribu-ribu kali
seperti penggalan kepala patung itu,
menjelma brahmana, ksatria, waisya, sudra, paria
kulakoni semua itu
hingga tiba pada sebuah telaga,
aliran tiga mata air dewa
ke situ Kau tuntun aku
bagai keledai dungu
membasuh wajah, tangan, kaki
melebur jiwa
dalam wangi bunga, harum dupa, hening tirta
hingga mayadenawa, dewa dewi, bianglala
menguap bersama gemerincing uang kepeng dan
taburan dolar para peziarah
sungguh terasa sunyi
sendiri menciumi wangi tubuhmu, arca batu
pahatan purba yang bangkitkan sayup-sayup kenangan
nelangsa doa:
aku asing di mataMu
Kau asing di mataku
namun selalu kita saling belit
serupa sepasang naga kasmaran
tunggal
hening
di antara gurat dan retak candi
bayang-bayang tubuhMu meleleh
di jalan setapak
menjelma embun
memisahkan dunia gaib kita
satu hal yang kekal:
aku terperangkap dalam ruang dalam waktu
karena karma, karena punarbhawa
tak paham kapan awal kapan akhir letih ini
tapi yakin,
kerinduan kepada Ibu,
mula denyut waktu
lebih suci dari beribu sajen beribu upacara
yang menuntaskan wujudmu,
o, candi-candi tua
arca-arca dewa
semua meleleh
bagai cairan darah tabuh rah
meleleh ke palung paling kasih
dari hidupku
1997
Perempuan Kupu-kupu
perempuan tua itu menjelma kupu-kupu
lalu membelit menjadi ular. lalu
menguap jadi embun. lalu
tumbuh menjelma bunga. lalu…
gadis mungil memetik bunga
dulu ia seorang nenek renta
dari tepi sungai kulihat perempuan belia
mencuci kenangan. membelai ranum payudara
dan samun turun membungkus tubuhnya
hanya puisi di sini. hanya
samun. perempuan tua itu
bicara padaku perihal kupu-kupu
yang tumbuh menjelma bunga
1997
Buyan
kabut:
jiwa nelangsa yang perlahan turun
menyungkupi sepasang bukit mungil dan
dua ekor walet yang menari di udara
menghayati getar dingin
dan getir pertemuan
puncak keindahan:
kematian kecil
yang merayap di celah rumpun perdu
mengintip senja penyap di bibir mawar
lalu malam muncul dari pejam matamu
membuka kanal yang membuih dalam diri
malam di perkemahan
si terkutuk mengendap di rerumputan
meliuk ke dalam liang tikus hutan
yang mendadak basah seperti embun
pada kelopak perawan
o, kemurnian hari
kembali mengingat wajah sendiri
penuh luka
dan pada terang unggunan api
pagi tiba membawa sampan-sampan
yang menanti kenangan
kembali menepi
1997
Hutan Cemara
hanya ular di rerimbun
daun cemara. mendesis
pun kabut di hati kita. mendesis
“tuangkan desis itu lekas
ke dalam hausku!”
rintihmu
kita peluk kabut
cemara menggumam:
khuldi! khuldi!
kau lelap. tidurmu masih
memeram gelora gairah
yang kuhembus dari rusukku
bila kau cemara dari beribu cemara
akulah pokok purba
yang membawamu sampai puncak
pendakian nyaris sempurna
selebihnya: malam cemas
kabut sesat
ular tidur dalam ceruk
jiwa kita
1997
Pelabuhan Buleleng
saat mengulum pasir
laut tertegun di bibirmu
muncul jenuh yang indah
membenamkan diri
menghayati
cahaya senja yang meleleh
di belahan bukit mungilmu
pada batas tatap mata
tak pernah kita pahami
sampai di mana jiwa letih ini
memeram doa
menuntun mata hati
tubuh kita menyala
terbasuh warna keemasan senja
ombak memerciki wajah
sekali waktu kita
seperti tak terpahami
tengadah ke langit silam
mata pucat menganga
sepasang burung laut
telah melewati
malam pengantinnya
namun sayap-sayap itu
menjadi letih
dalam sangkar keramat
sang waktu
nelayan mengemas jala
perahu-perahu mengandaskan diri
aku ombak, kau laut
aku laut, kau ombak
kita terhempas dari pelabuhan
ke pelabuhan
setandas-tandas usia
1997
Bermalam di Toyabungkah
dan kita buka percakapan
dengan kopi hangat dan
kenangan pendakian
cemara bangkit menuju danau
namun aku lebih silau
pada bayang bulan
yang menenun tanya
pada matamu:
di mana batas pasti
antara kabut dan malam?
jalan ini bermuara
di keheningan danau
sebagai bongkahan lahar beku
aku lebih memilih
menjerat dan melepas
bunga-bunga rumput
menjadi sayap
beribu sayap kabut
o, danau kelabu
telah lama kau jadi kopi hangat
dalam gelas para pendaki letih
sedang aku tetap lahar beku
dalam permainan lugu
bunga rumput
1997
Malam Pengantin Pesisir Serangan
setapak jalan bakau
kubangan lumpur setinggi betismu
kususuri
tiba pada matamu teduh,
pantai biru dan hutan bakau
melantunkan jerit manis
malam pengantin
pagi beranjak siang dan
akhirnya berangkat senja
pun laut pasang surut
dalam kuluman-kuluman lembut
yang mencandu kesadaranku
lalu jenjang lehermu
lalu bulan semu itu
dalam nikmat sunyi
puisiku lahir
namun liang-liang kepiting
penyu-penyu hijau
telah tergusur
bentangan hijau lapangan golf
genangan payau,
bau amis ikan-ikan keracunan
kubangan lumpur. endapan
segala kotoran. semua itu
mengganggu malam pengantinku
di pesisir serangan
1997
Di Jimbaran Aku Mengenangmu
mengenangmu
laut hasrat akan paras bulan
namun hanya pendaran
lampu-lampu restoran
merambati mimpi nelayan
kureguk nafas laut
yang dulu memberimu gairah
yang ngingatkan aku legam rambutmu
aroma harum bunga pandan
mengenangmu, pasir putih
jukung-jukung membusuk
di bawah temaram lampu-lampu kafe
ombak membuih di gurat tangan nelayan
yang melepuh melabuhkan subuh
pada mata bocah-bocah pantai
sungguh sunyi seperti ubur-ubur
menyengatku dengan racun laknatnya
tertatih menyusuri pasir putihmu
beribu camar jenuh menabur doa
di gua-gua rahasia tepi pantaimu
1997
Pantai Senggigi
lebih dari beribu puisi tak mampu
membekukan kenangan itu
camar-camar tak sampai
melabuhkan matahariku
di pantaimu
ombak pun luluh jadi buih
kembali pulang ke sarang air
biru.biru.biru
angin murah hati menggambar
bayangmu di hampar pasir
rambutmu makin biru
gerai, gerailah
biarkan aku mabuk di situ
berkendi-kendi anggur keabadian,
sulingan perih air mata pantaimu
tandas kureguk. tandas!
1997
Catatan Reklamasi Pantai Serangan
bagaimana aku jelaskan
rasa luka itu padamu
kau telah paham
lebih dari yang kurasa
warna-warni lampu proyek reklamasi
dari tempat kita duduk
begitu memesona
kau tentu tahu
begitu banyak korban di situ
dari mahkluk yang paling papa
hingga dewa-dewa jagat ini
tergerus kenyataan pahit
yang berwajah anggun pariwisata
kita hanya bisa saling pandang
dalam perih yang senantiasa berulang
rapatkan tubuhmu lebih hangat ke dadaku
aku ingin rasakan bagaimana kau
bernyanyi tentang jiwa yang letih
sebelum kita saling yakin
ada bagian dari hidup kita
yang senantiasa basah oleh luka
tentu kau pun tahu
kenangan yang kembali
mempertemukan kita di pantai ini
merasakan pedih desah ombak
yang tak berdaya dengan diri sendiri
pun karang-karang kapur itu
hanya saja kita berusaha paham
ada ihwal yang pecah antara
jarak tatap mata kita
hingga kangen meluncur dari bibirmu
basah oleh kenangan
setandasnya kukucup
sebelum deru mesin proyek reklamasi
melecut kesadaran kita
: pantai cinta ini telah memadat
jadi hamparan kapur
1997
Lelaki Sunyi
–buat: w.w.–
gigilmu itu bukan karena hujan
bukan dingin
namun lebih urai kenangan
sesungguhnya siapa kau,
lelaki bertudung daun pisang
yang sendiri di bawah derai rinai
sekuntum bianglala rekah
terhimpit di celah indah
payudara yang pasrah
lalu rinai luruh
tumbuh jadi puisi
pulihkan letihmu
di basah aspal jalan
kau kacakan wajah
segurat kenangan
sekelumit kisah
perawan rawan
kau ilusi
dibuai puisi
pelita jalan. pelita jalan
peluklah. pukaulah selalu
lelaki sunyi
yang tak habis-habis mengurai
nujuman tua itu
1997
Taman Tak Berbulan
bangun dari tidur bertahun
jiwa adalah angin
mengurai hening buluh angan
di taman tak berbulan
mimpi mawar mekar
hari-hari meluruh
jadi benih-benih sunyi
yang tak jenuh kau semai
kenangan
burung malam
berbulu kelam
di taman tak berbulan
suatu waktu jejakmu kikuk
diseret angin sesat
larut dalam kabut
malam rinai
mimpi abadi
di pintu puri
1998
Satu Perahu
biarkan perahu kita mengalir
menurut kehendak air
kayuh perlahan saja menuju hilir
kita nikmati anggrek bulan mekar
ikan-ikan riang
menari di air bening
kau mesti mengerti bahasa sungai
agar jiwamu terbuka akan segala yang abadi
pegang tanganku agar kau lebih merasakan
rahasia puisi yang merambati
embun di daun-daun pinggir sungai
kau lihat dua ikan yang berenang riang itu
mungkin mereka sepasang kekasih
aku ingin seperti ikan
hidup di bawah teduh sungai
bersama dalam damai
genggam tanganku lebih erat
biarkan perahu kita hanyut
menurut kehendak air
1998
Taman Seroja
sejauh itu kau tabur
beribu cahaya
yang bagai kunang-kunang
menyeret diri selarut malam
saat kami menuju kedamaianmu
jangan lontarkan kata
apa makna kami bersama
selalu membujuk tanya untuk
jawab yang jenuh kami jebak
kami jadi bagian dari malam
sebab kami lahir dari pagi
harum embun
yang memeram melodi sendiri
seperti kau peram sunyimu sendiri
jangan luncurkan jerit
yang seperti siluet burung malam
ke tengah raut demi raut wajah
yang penyap sebelum kami ada
pada paras malam bergerimis
bulan seperti menangis
sebentuk tangan mungil terulur
ke dalam miris udara
ingin raih wajah kami
yang telah kabut
kami bebaskan diri
dari riuh hidup sehari hari
masuk ke celah kelopak seroja
kamilah malam
kamilah kalam
kebebasan kami
seribu seroja
di telaga
1998
Malam Purnama
dari dahan kamboja
kau julurkan tangan
ingin raih bulan
bunga seroja di telaga
melempar lengking tangis bayi ke udara
malam mengambang pada mata perempuan
aku terkenang mata kucing hitam
seorang pemabuk membual di tepi telaga
mengutuki bulan, merayu malam
dan akhirnya memaki diri sendiri
tapi kita juga pemabuk
sebuah sandiwara selesai menjelang senja
aku terkenang kekasih
yang menguap jadi udara
tapi kita juga pemabuk
menenggak apa saja
memuntahkan apa saja
mulut malam yang manis
melempar kata-kata umpatan
bulan resah, perempuan melenguh
udara pucat
gemetar mendengar igaumu
sungai mengalir tenang di kaki seorang ibu
aku ingat perjalanan dari kota ke kota
di kotamu aku pernah bahagia
di bawah siraman cahaya neon kita makin fana
pemakaman ditutup dengan mantra
dan sedikit aroma arak
aku terperangkap dalam doa-doa
yang meluruhkan seluruh rusuk
kau ingin raih bulan itu?
lenguh perempuan dalam belukar mengusikku
cahaya pohon kamboja
menawarimu bunga
sebagai bekal perjalanan
dari kota ke kota
dari mati ke mati
dari lahir ke lahir
1998
BirahiBiru
malam tiba
purnama mengurai rambut di jendela
aku susuri pesona suara serangga
sayap-sayap malaikat bergetar
perjalanan kau guratkan
pada tapak tanganku
aku rindu kau
aku jauhi kau
kupahami ngilu
memusar dalam darah adamku
purnama jatuh
separuh digigit kelelawar buah
separuh hanyut membawa hayatku
aku termangu
menghitung rindu yang tak henti gugur
sejauh perjalanan memburumu
kelelawar memuntahkan remah purnama
serbuk sari telah terbenam di kepala putik
perkawinan!?
kau tak jenuh meneliti gurat keningku
di situkah muara rahasiaku
belum seluruh lekukmu kupahami
aku rebah pada altar suci
apa lagi yang rahasia
o, birahi biru. altar suci
aku terkapar dalam nikmat
dalam sakit
gerigi waktu beradu
kau seperti ada. aku seperti tiada
mawar mekar
kau hablur
aku lebur
1998
Penjaga Cahaya
yang luput dari diriku
adalah cahaya
saat sampai di tepi
berwaktu-waktu aku lemparkan kail
ke samudera yang sembunyikan ibu
rindu jadi api
membakar hampar laut
cahaya mengalir
matahari memeram cahaya
duka jadi mata kaki
bagi pejalan letih
o, beribu mimpi
yang merubung hidupku
jadilah nyata
jadilah nyata
1998
Bangau Kertas
tanganku gemetar
membentuk garis pada kertas
melipat tangis
jadi sayap yang cemas
dukaku terbang
dukaku terbang
senyap. tanganku pucat
meraba cahaya bulan sabit
di jendela kamar rumah sakit
bangau-bangau kertas mengurung
ruang remang
kau terlentang
jadi pecundang
waktu sinis
di dinding bangsal
dentang lonceng
dan kelam
memburuku
seperti mimpi buruk
kau mengerang
ruang penuh bayang masa kanak
terkenang saat mengejar layang-layang
yang putus tali
tapi kini nyawamu tergantung
pada seutas slang infus
kulipat lagi kertas
kugurat lagi getir. kulipat lagi tangis
seribu bangau kertas mengusir si laknat
waktu yang khianat
namun hanya bangau-bangau kertas
menari riang di udara beraroma formalin
menggurat bayang pada dinding
kau terbang. kau terbang
menyisakan jejak duka
pada remang ruang
1998
Kau pun Sampai
kau pun sampai di tangga ke seribu
awan lembut membasuh kakimu
peri-peri menari dalam lingkaran sunyi
di tepian sungai di tengah hutan
bunga gugur kembali mekar
burung-burung yang patah sayap
kembali terbang
peri-peri air bermain embun
bayangmu menyelinap
meniru gerak angin
kutitip duka pada helai-helai daun
rindu yang hanyut
padamu menjelma kabut
seribu tangga kau tempuh
hingga sampai pada tepi
igauku luluh jadi cicit kelelawar
di gua cadas
tanya terpekik di jeram deras
air yang tiba ke mana akan tertuju?
wangi lehermu harum bunga kopi
seribu tangga menjuntai di awan
peri-peri memainkan melodi
mengiringimu sampai pada tepi
1998
Potret Diri
lebih sepi kau kini
sehelai puisi tak selesai
puntung rokok dan kerak kopi
makin kusam dalam gelas malam
waktu seperti risau
menunggu di ujung gang itu
seperti apa paras bulan
saat langit muram
puisi tak selesai
hidup merambat lambat
racun tembakau dan mariyuana
telah sampai pada pusaran nadi
lalu kau temukan diri
dengan sepotong pena rombeng
dan seberkas mimpi usang
1999
Lorosae
namun senja
seakan enggan
menghapus air mata
pada cuaca
kudengar lengking camar kehilangan ibu
buih mengeluh
garis pantai cemas
seorang bocah berlari ke arah malam
menyongsong bintang biduk
yang hendak lapuk
(seperti aku mengenal wajahnya yang fana
menyembul dari gundukan candi-candi pasir
seakan ingin berucap:
jangan biarkan langit kembali merah!)
angin timur mengalir dari pantai
pasir-pasir buyar
bau anyir
pembantaian di musim semi
kerang-kerang mendadak kering
terbuka dengan daging meleleh
dan lokan buta menangis
udara amis
senyummu, maria, seperti bunga bungur
kuntum yang dipatahkan paksa
prahara akan kembali tiba
segera bergegas. berlindung
ke dalam mercusuar di ujung tanjung
di situ mungkin masih tersisa
penawar duka
jerit anak camar
menggigil
melihat kabut pecah
jadi buih darah
pada rongga mata
seorang serdadu tua
dalam udara amis
langit menangis
kata-kata kusam
lumer dari grafiti
yang ditera dengan darah
di tembok mercusuar
kau tak akan pernah tahu
di lorosae
waktu yang setia itu
adalah seteru
yang diam-diam menyusun
rencana penghianatan
untukmu
cahaya cinta dari hatimu, maria
telah jadi ragi
hancur seperti remah roti
dan anggur yang dulu kau peras
dari tetes air matamu
telah memabukkan mereka
1999
Notasi Pantai
seekor camar buta
gemetar
di pucuk tiang perahu
laut melulu biru
dan matamu, kekasih
seperti batu pualam
suram dan muram
langit gugup, angin mengerang
di ruang hening cangkang kerang
kau melirik ke arah senja
masa silam hanya untaian rantai
kalung yang melingkari lehermu
o, gelinjang panjang
aku meradang pada ranjang lengang
perlahan meredakan gemuruh batin
dalam zikir yang meremukkan rusuk
waktu seperti terlontar
dari cekung mataku
pasir-pasir tertebar
membentuk ornamen
sebuah peta terbuka
kubaca lagi tubuhmu
seekor camar buta
penyap pada samar senja
1999
Lanskap Laut
mereguk asin laut
terkenang
bulu-bulu halus kudukmu,
kepak camar dan
pelaut muda yang mabuk
di geladak
ombak betina tiba
pesona menatap senja
kugenggam geliat laut
kau membuih di gurat tangan
bulu-bulu camar gugur
senja samar
lenganku lunglai
merengkuh
waktu yang karam
bayangmu bergetar
menahan getir
denyut pada nadi
suatu saat
dapat jadi laknat
lalu berkhianat
pada pasir membekas jejak
mungkin jejakmu
1999
Taman yang Kau Impikan
rahasia yang semayam
dalam taman
beri aku seteguk waktu
untuk memahami adamu
saat cahaya bulan
mendedah tubuhku
letih aku menggapaimu
hari-hari berlari
seperti amis darah sendiri
pada punggung bebukitan
rambut legam menjuntai
dan matamu adalah sumber air
rasa haru pada wajah langit
kau seperti rahasia
dari sekelumit perjalanan
di akhir waktu
pengembara akan mati dalam kesepiannya
sebab ragu pada rumah
atau mencerca tanya pada persinggahan
aku memilih celah paling kelam dari malam
termangu mengenang hari-hari lalu
atau tawar menawar dengan sisa-sisa waktu
untuk sebuah kemungkinan makna
kau adalah keutuhan bagi rusukku
mengalir seperti darah dalam nadi
menangislah selalu
di taman yang kau impikan
1999
Laut Bali
sisa cahaya dan arus waktu
larut dalam kadar darahmu
laut tak jemu mengigau pilu
seperti sedu peri-peri penipu
kau hitung jejak kelahiran itu pada pasir
sisa cahaya merembes dari pusar ombak
kawanan bocah muncul dari rekah karang
menawarimu kalung-kalung kulit kerang
pada matanya kau lihat pesisir bali menangis
bukit-bukit kapur terkikis
pantai-pantai tereklamasi
perahu bercadik melaju
seperti masa lalu
seorang tua menegurmu:
“kembalilah ke laut, cucuku
laut adalah ibu
awal dan akhir waktumu”
kau masih tafakur
tubuh pelaut tua itu
perlahan larut jadi garam
dalam kalbu laut
kau memusar mengikuti arus waktu
sisa-sisa cahaya merintih:
“ucapkan mantram leluhur pelaut
agar angin jinak, ombak jinak, ikan jinak
dan turunanmu jadi bijak!”
1999
Upacara Kelahiran
bulan kesembilan
mataku ditumbuhi lumut
hujan rancu
pada batang alang-alang
aku tiba
cahaya yang tergenggam
adalah tangis bayi
pada kusam pagi
rintihmu
merasuk ke pelepah-pelepah pohon
ke serat-serat daun
ke akar-akar yang tak sabar
kali kecil itu mengalir
ke hulu nadimu
kutemukan gua tua
dua sumber air
dan belukar yang lebat
saat musim kawin
waktu luntur
dalam gema tambur
yang ditabuh bocah-bocah
kendi pecah
mendedah jantungku
anak-anakku nanti
pemilik keabadian
aku hanya cahaya
yang fana
2000
Upacara Lingga
bulan menjerit lirih
gumpalan awan pecah
di lingkar lingga
membasuh rumah siput
yang lunak dan basah
mantra doa datang membandang
memenuhi parit-parit yang kejang
dan susut ke dalam darah
kau menyeru nama-nama dewa
yang bergelantungan di dahan pohon ara
berpesta daging gurih
wangi ratus dan juga birahi
aku hanya punya benih dalam darah
yang menyanyi saat kau tiba
yang meratap saat kau tiada
sebab curah air matamu
pada hamparan kebun anggur
hausku adalah siksa terakhir
sebelum akhirat
2000
Parangtritis
di tali kutangmu
gunung-gunung murung
angin jalang
menyibak serumpun kenang
yang ranggas
dari kusut rambut
kau bicara
ingin mengurai cuaca
butir-butir kata menyerpih
di lingkar merah putingmu
aku coba mengukur jarak bulan
dan matahari
senja pudar di tiang layar
camar-camar berputar
berpusar
pada hampar cuaca
bibirmu kandaskan mimpi
kusam, muram, merajam hari
kutemukan
hanya perahu-perahu lapuk
melayari rapuh tubuhmu
terjebak
terbujuk
pusar liar ombak
o, lenguh
yang mendedah tubuh
lokan-lokan meresap
ke dalam pasir
gunungan pasir
unggunan api
kandaskan mimpi
2000
Fort Vreedeburg
–buat: r.t.b.–
kau dipukau lukisan biru langit
tujuh cemara, sebentang kolam bening,
rumpun alang-alang, burung-burung
kecil dengan kepak sayap kecil
aku dipukau lumut pada tembok
tebal dan bebal, mungkin juga kekal
aku lihat waktu membuka peta
sebuah sejarah dan juga darah
mengental, menebal, nempel pada tembok
pada meja marmer kudengar
senja menangis samar-samar
seperti sekawanan arwah
serdadu yang tertangkap
mungkin juga terperangkap
pada tembok tebal benteng
“arwah melekat pada tembok!” bisikmu
kau bilang aku mengigau
aku dengar derap sepatu serdadu
kau sebut aku melamun
aku rasakan senja menangis
samar-samar menjalar
ke degup jantungmu
2000
Haya
kugambar parasmu pada pasir
suara harmonika, laju perahu
ke arah senja mengalir
angin garam
meniup usia diam diam
waktu, apakah aku?
senja surut
kabut susut
perahu luput
hanya angin
melambai lamban
di pucuk pandan
2000
Tanah Lot
ombak yang meludah
meniti gigir cadas
camar yang sendiri
penyap pada warna pagi
sepasang turis
sepasang bibir
di muka gapura candi
seekor anjing kumal
melintas
tak lagi kutemukan kau
hanya warna pagi
muram
dengan lutut gemetar aku bertamu
ke sebuah kafe tepi pantai
seorang ibu menyeduhkan kopi untukku
aku terkenang si penyair tua itu
yang menulis puisi pada sebongkah cadas
di laut lepas
yang merasa jantungnya tertanam
dan tumbuh diantara bunga pandan
sepasang turis
dengan raut kusut
perlahan masuk
ke mulut ombak
waktu merambat
liat dan lambat
2000
Kamar
kunyalakan kembali lilin
dalam kamar yang bertahun muram
angin yang membawa hujan
hampir memadamkannya
aku hanya bisa bertahan
hanya pada rambatan cahayamu
pintu kubiarkan terbuka
agar kau dapat menjenguk rasa sakitku
atau sesekali bermain kau dalam kamarku
mencoret dinding dengan warna-warna
yang terkadang tak kusuka
tapi tak kuasa aku menolak kenakalanmu
saatnya tiba
lilin perlahan meleleh di meja kayu
namun cahaya selalu bertahan
di udara yang lain
di udara yang lain…
2000
Dan Malam Kian Mendalam
aku tak tahu
cangkir kopi itu
bicara apa
pada malam
sekeping kata
yang jatuh
berdenting
sekotak kota
dalam bayang
kemarau
untuk pergi
atau kembali
aku tak tahu
pohon jati yang berbaris
seperti membentuk selarik mimpi
jendela, kaca retak, rel kereta api
dan kau yang tertunduk tanpa kata
hanya angin di luar
mengantar sesamar kabar
hanya angin di dalam
memendam hari muram
beri suara pada yang tiada
pada desis puntung rokok di sisa kopi
pada mungkin yang seperti puisi
yang meluntur perlahan
perlahan…
2000
Buka Sedikit Jendela
buka sedikit jendela
agar cahaya
merambat leluasa
pada mata kita
aku lupa
siapa yang memajang potret kita
bersandingan di dinding tua itu
tubuhmu memasuki tubuhku
pengembara tua yang terlunta
ribuan tahun memburu sumur cahaya
aku terkenang kartu
bergambar mawar putih
saat waktu leleh
dalam genggaman malam
kutemukan sumur itu
tubuhmu melunaskan hausku
sejauh perjalanan
dari kubur ke kubur
2001
Gerimis Kupu-kupu
kaukah itu
yang melambai di ujung jalan
saat gerimis belum sempurna
jadi kupu-kupu
yang akan memahkotaimu
dengan serbuksari
gerai. gerailah rambutmu, kekasih
biarkan aku sesat perlahan
meresapi kutukan
terlunta di negeri sendiri
segurat isyarat
sepucuk surat
wasiat dari hayatku
tak ‘kan sampai padamu
di ujung jalan itu
kau masih melambai
gerimis belum sempurna
jadi kupu-kupu
2001
Bhisma
sebab kutuk dan janji
aku bertahan pada takdir ini
akulah bhisma
yang menatap hampa pada senja
beribu gagak
menggumpal hitam
di langit kurusetra
dan senja
muara abadi segala keluh
seperti abadi kesepianku
srikandhi, bentangkan busur panahmu
amba, bidikkan muram dendammu
biar melesat beribu anak panah biru
menyangga ragaku
mengukir takdir akhir
mengapa mesti ada duka
telah tumpas segala suka
saat surya rebah ke utara
aku pun tiba pada hampa
2001
Bulan pun Layu
Di Tepi Tamblingan
setelah halimun
parasmu pupus
di pias danau
bara pada unggun kayu
masih sisakan birahi semalam
canda perkemahan
telah menyurutkan darah
yang mengalir deras ke urat malu
di pias danau, apa yang gagu
selain waktu yang menunggu
kepulanganmu
pagi itu, embun di pucuk pakis, benalu,
anggrek bulan, cemara dan danau
menduga telah terjadi sekutu
antara kau dan aku
lalu dari bongkah kerak kayu
kau ulurkan kenangan layu
“kayu itu suatu waktu
akan jadi perahu
yang mengantar ruhmu
ke tengah danau,” bisikku
namun parasmu telah pupus
sebelum mengaduh danau
setelah halimun bergulung turun
pengayuh perahu tiba
menjenguk cemas kita
tanpa suara ia menuntunmu
menaiki perahu
lalu mengayuhnya makin jauh
makin jauh…
2002
Requiem
mengapa harus ruhku
menuju ruhmu
kau ternganga di tepi cadas
memandang cemas
pada burung-burung
yang mematahkan sayapnya di udara
pada pusaran warna
adakah kau temukan keabadian
maut lekat
pada mata
pisau palet
teriaklah lantang
pilu melolong
seperti anjing
tersihir
bulan telanjang
kutemukan kau
pada tekstur cadas
menceburkan diri
dari jeram
kau meresap ke rekah batu
tidur seperti batu
bercinta dengan batu
mati dalam batu
mengapa harus ruhku
menuju ruhmu
kembali pada diri
aku hablur dirajam mimpi
mengutuki diri
mensyukuri diri
2002
Taman Laut
kita tak pernah mampu
menduga kalbu laut
pada warna biru itu
kita mengaca
adakah sesuatu
tersembunyi di situ
laut adalah ibu
tempat kita sekali waktu mengadu
pada kelembutannya ada sesuatu
yang menghunjam kalbu
aku tak pernah tahu
mengapa bayangmu
selalu muncul di situ
mungkin, kau lebih fasih
menggurat aksara di pasir
menggambar wajah kita
yang tak saling mengerti
menduga yang tak terduga
adalah riskan
pada parasmu
aku seperti menemu
masa lalu yang kembali menjelma
tapi tak mampu aku
mengabarkan itu pada angin
yang memainkan pasir-pasir
aku hanya tahu
ada saat surut menjauh…
seperti ucapmu
2002
Larik Ombak
selarik ombak
tertulis di anjungan
mengabarkan wajahmu
yang hijau
digerus air garam
beribu tahun lampau
mungkin kau putri duyung
atau peri air penipu
yang suka menjebak dan membujuk
pelaut-pelaut muda yang mabuk
wangi mawar laut di geladak
pelaut muda itu mungkin aku
yang tiba di anjungan dengan perahu
dan layar robek tercabik angin kemarau
yang berseru pada senja dan cuaca kelabu
: daratan! daratan!
aku merasakan daratan
melihat kerajaan
dan kau,
putri duyung yang menunggu
di atas singgasana mutiara
pada ranum bibirmu
tiram-tiram mengulum kelam
hiu-hiu bermata biru saling terkam
ikan-ikan cahaya padam
menggigil dan gemetar
aku menunggu
titah penghabisan
di kerajaan bawah laut
kini di anjungan
selarik ombak tertulis
bau amis dan air garam
menggerus biru tubuhmu
2002
Artupudnis
sepasang kijang hilang
di lengang ilalang
gerimis tandas
jadi kata-kata
mengalir deras
pada puisi terakhirmu
diam-diam
kau menjelma bunga
dikawinkan lebah madu
saat kau meneliti jejak
yang mengerak
di kulit kayu
pohon-pohon bakau
yang ranggas dedaunnya
sanur adalah palung masa lalu
bagi si penyu hijau
dan hiu bermata biru
aku terkenang pengembara
yang suka menyapa tukang jukung
dengan sajak anak-anak ombak
kau pun kabur
alur-alur puisimu
tak selesai kau tabur
waktu yang uzur
mendekam di situ
2002
Bulan pun Layu
bulan pun layu
mengenang bayangmu
yang menggenang
di kubangan warna
kau beringsut ke arah kelam
tak pernah tahu
di mana perahu berlabuh
hanya tiang-tiang layar
hampir patah
dan angin garam
mengaduk kalbu
aku menyebut usia senja
kau mengulum senyum
dan kita tahu
jiwa hanya sesuatu
yang hablur
dalam didih waktu
warna ungu menjerit pilu
pada bidang kanvasmu
angin dari pantai selatan
bersuir-suir memanggil jiwamu
aku menemu sisa waktu
menguap dari hidupmu
warna-warna leleh
dalam gairah patah
seperti garis atau gurat
pada kening kelabumu
2003
Bocah Bermain Ayunan
bocah itu bermain ayunan
di tangga menuju awan
dia berputar-putar pada dua tali
dari tumbuhan jalar
terus berputar dan berayun
seolah menduga di tangga ke berapa
pintu surga terbuka
dari gaun putihnya
tiga merpati bersih hambur
langit begitu biru
seperti mata bocah perempuan
yang bermain ayunan itu
di tangga ke sembilan
sosok tua berjubah kelam
melepas helai demi helai kertas
kertas-kertas melayang
menjelma burung
namaku
atau namamu
tertulis entah
di helai kertas ke berapa
bocah perempuan itu
suntuk bermain di awan
perlahan dia
menjadi ayunan
pintu surga
belum juga
terbuka
2003
Aku Rindu Mariyuana
malam ini aku rindu mariyuana
namun hanya suara serak radio menjalar
seperti keluh nenek renta yang pikun
mata belum pejam
desir angin dan bisik dedaun
bikin aku makin asing dari kenangan
hanya buku-buku tua pada rak berdebu
mungkin di antaranya terselip surat cinta
atau bon-bon yang belum lunas
suara radio makin serak
serupa gerutu gagak
di pucuk pohon kamboja
pada cermin retak
aku cermati wajah
: keningmu makin penuh kerut
o, penyair!
kulipat surat cinta kertas kusam
jadi burung bangau
hanya mengambang dan gemetar saja
terayun-ayun di lelangit kamar bercat biru
o, aku rindu mariyuana
puisi-puisimu begitu cerewet
dan membosankan
bakar! bakar saja!
malam ini, kau tahu,
aku hanya rindu mariyuana
menghisapnya perlahan
seraya melamunkan kekasih
di bawah purnama
2004
Kampung Terakhir
pungguk itu tunduk di dahan waru
ada seberkas cahya purnama
memintas batas
sepi tiba-tiba
ada nyanyi dari buluh seruling
mungkin seorang pengembara
terkenang kampung halaman
di dalam bilik gubuk
hanya kita, mungkin juga cicak,
berbagi desah, resah,
dan juga lenguh
yang coba membunuh
sosok waktu yang ngalir
di kanal nadimu
aku terkenang sebatang kayu mahoni
yang terlunta dihanyutkan sungai
hingga lelaki tua bungkuk itu memungutnya
penuh iba
di halaman gubuk
lelaki tua menatah kayu menjadi arca dewa
arca dewa tua
tanpa janggut, tanpa mahkota
lebih menyerupai patung murung
namun pada tapak tangannya
tergurat aksara
aksara pada jiwa
mendedah sembilan dewa
yang terusir
dari lingkaran mandala
di dalam bilik gubuk
pada muram cahya pelita
kita mencipta dewa
bagi semesta jiwa
pungguk itu terkantuk
di dahan waru
alun seruling menjauh
aku tiba di kampung
terakhir…
2004
Malam Pantai Canggu
di pucuk meru pura
bayangmu menjelma bunga angsana
senja ungu
aroma garam
berbaur wangi dupa
kerang mengerang saat pasang
aku terkenang duri-duri pandan
yang menyusup di kulit tangan
kau bersimpuh
sujud di muka altar batu
adakah puisi mencurahkan cahaya semesta
pada jiwamu?
aku fana di limbung gelombang
hanya pasir bergetar di pucuk layar
mari cintaku, bisikkan lembut
lenguh ombak di jiwaku
agar tenteram aku berbaring di pesisir
aku tahu lampu-lampu itu
hanya memeram warna senja
yang tiba tertatih
apa kau percaya kata mereka
tentang kita yang dikutuk masa lalu?
jangan kawini laut
aku cemas kau makin asing
di gigir gelombang
cumbu aku
hingga kau mampu
memahami peta perjalanan
yang berliku menuju puncak sajak
kau memintaku pulang
sebab kelam malam telah mengepung pesisir
kenapa mesti cemas pada malam?
malam adalah kawan setia pejalan
aku bisa berkemah di mana saja
kunyalakan unggunan api di hampar pasir
serigala akan mendekat dan menjilati kakiku
seperti bocah yang minta dibelai ibu
dengan puisi kuhangatkan tubuh dan jiwa luka
yang diderita para pengembara
maka cobalah berbaring di pasir
dengar laut berkisah
perihal perjalanan patahan kayu
menuju muara
tentang biduk-biduk lapuk
yang bertahan di tengah topan
atau perihal peri-peri laut
yang suka menggoda nahkoda
buka mata, coba tatap langit malam
kau akan saksikan rasi mithuna dan kataka
saling bercumbu
betapa mesra, kekasihku
bahkan baruna, si dewa laut
cemburu menatapnya
api unggun masih menyala
jangan pernah padami
biarlah baranya yang biru
menjaga dan menentramkan jiwa kita
hingga usia bumi
makin renta
2004
Bukit Venus
aku tiba pada hamparan bukit venus
milikmu yang penuh pesona
pada tebing merah muda
di antara rerimbun pinus
sebuah pancuran di atas gua
mengalir air ibu bumi
seperti pertapa tua letih
mencari sumber air suci
aku berjalan tertatih
terseok keluar-masuk
menyibak lebat semak
gua gelap di tebing bukit
cahaya dari hutan pinus
seperti sorot mata ular di taman firdaus
aroma tanah sehabis gerimis
embun menghias pepucuk pinus
merembesi gua tapaku
kurasakan nikmat tertinggi
kidung persembahan ibu bumi
2004
Penjaga Kata
(1)
hilang sudah kau
angin mendulang
sukmamu, segala lara
ingin abadi dalam pusara musim
fitrahmu hanya kata-kata hampa
tidurkan mimpimu di sela
iga yang segera rontok
demi memuja larik-larik sajak
aku hanya penyair tua di gua garba
kau pembaca rabun segala makna
nikmati saja janji-janji puisi
gelegak surga yang ingin kau raih
entah di atap langit ke berapa
raung itu kembali bergema
tapi tak kau yakini sebagai
ilusi yang nisbi
pemburu makna terkutukkah kau
upayamu sia-sia mengais sisa kata
ihwal yang senantiasa kandas
seperti rama-rama hangus
ingin tandas di sumbu lampu
(2)
pemuja bintang dini
upaya apa lagi mampu
imbangi segala igau
segala resah, segala keluhmu
ingin raih ufuk yang lapuk
nujumanmu kata-kata semu
irama yang ragu
ritma yang kaku
walau kau coba segala peribahasa
apa inginnya puisi yang melolong sepi
ngembara dari puing-puing bunyi
jangan titahkan waktu
ujung lorong kelabu
gaung gema yang sia-sia
angankan puisi sejatiku
semestinya cermin itu benar
akan membuka rahasia kata
memantulkan bayangmu yang gagu
pada segala warna musim
atau kau hanya penadah
halimun yang sirna
kini kilau benakmu
akan segera mengerak
tak mampu lagi
akhiri luka kata
(3)
fatamorgana apa lagi
alirkan kilasan-kilasan warna
jejak yang kikuk di simpang jalan
antara kampung kumuh dan kota tua
rahasia mimpimu terkubur
aku tak ingin kau jadi pecundang
pesakitan yang sekarat menunggu
ajal datang menjelang
mungkin masih mampu kau raih
angan penyair yang tintanya telah tandas
umpama pohon gugur daun
meranggas sembari memuja masa silam
untaian kenangan menyerpih
dulu pernah aku mengeram mimpi
endapan kerak yang telah menghitam
nujuman palsu aksara tua
gurat-gurat pun makin sempurna di keningku
apa lagi yang mesti diucapkan
nyanyian jiwamu makin sumbang
cuaca tanah leluhur telah lama kau lupa
embun pun tidak lagi bening
rasa pagi menghilang dari jiwamu
pudar serupa bayang-bayang samar
erang purba yang bikin ngilu
nujuman kelabu si tukang sihir
2005
Di Kafe Tera, Rawamangun, Jakarta
buih bir itu mungkin pernah
menduga dirinya buih laut
sampai kau bertutur
tentang ladang dan kampung
yang hampir rampung
diserang wereng
jagung pun tak mampu matang
musim kering begitu kerontang
hingga segala benih jadi garing
kau tuang laut ke dalam gelas
aku tahu, malam segera tuntas
dan asap kretek akan tumpas
dari bibirku yang haus
“aku dari indramayu,” lirihmu
indramayu, sebuah daerah kuyu
di pesisir utara jawa
penuh janda ayu
perahu-perahu suka berlabuh di situ
“apa kau tidak mau berlabuh?” desahmu
aku hanya pejalan sunyi
melulu ditemani duri
yang melekat di tapak kaki
pedihnya tak kurasa lagi
di bibirku yang rekah
buih laut itu
kembali merasa
dirinya buih bir
malam bergumam
di sudut paling suram
kafe tera
2005
Menyusuri Jakarta Tengah Malam
tak ada lagi yang bisa selamatkan kita
menghindari malam yang makin buram
mari susuri saja jalan ini
sejauh mana kita mampu berjalan
letih hanya milik waktu
dan ragu akan segera berlalu
dari sendu matamu
lampu-lampu kota
makin tua cahyanya
namun wajahmu yang belia
membayang di setiap warna iklan
senantiasa menggoda
di mana kita mesti singgah
untuk sekedar istirah
menghentikan langkah
rumah terlalu jauh
dan losmen murah hanya sisa keluh
mungkin juga sejumput lenguh
mengapa cemas pada selimut tipis
yang menutup kawasan rawan tubuhmu
selimut yang serupa selaput itu
mungkin terlalu rapuh
tapi yang suci adalah hati, kekasih
“dan yang setia adalah perjalanan,” gumammu
kau gagu
meraba wajahku
aku kelu menduga kilau
airmata di pelupukmu
seperti embun
di lembah subuh
2005
Pantai Ancol
–bersama unan–
dan kita pun sampai
setelah lelah berjalan
diukur dan diukir terik hari
paras laut masih seperti dulu
kelabu dan kelabu
perahu-perahu kecil menunggu
di dermaga kayu
senja sempurna tanpa ciuman mesra
dulu pernah kau tatah namamu
di bilah kayu di ujung dermaga
dan angin garam menuntaskan
segala yang fana
di tepi pantai
kau lantunkan syair-syair cinta
begitu merdu dan syahdu
hingga menyihir langit jadi kelam
sekelam matamu menatap hampa
lampu-lampu kota jakarta
dari lengkung alis
gerimis turun ritmis
menggurat siluet kepak camar
yang bergegas menuju sarang
“hujan-topan akan tiba,” cemasmu
apa bulu-bulu mata bisa gugur
seperti dedaun waru atau bulu camar
di tengah angin resah
apa kau percaya
kita telah tiba di pantai
yang kau angankan
aku merasa
ada yang diam-diam
menyusun airmata
jadi candi-candi pasir
2005
Dago
malam menjelang
sudut-sudut kota mengembang
dalam senyum kepayang
udara dingin menyusup
di sela serat syal biru
aku terkenang sepasang alismu
yang melengkung malang
mewartakan duka burung-burung usiran
di dago di sepanjang jalan lempang
kembang dan kumbang melenggang
seakan tak hirau kabut linglung
tapi pada cangkir cappuccino hangat
senyummu membayang ranum
masihkah bibirmu sehangat
saat kutinggalkan kotamu
andai kau di sini
tentu kemerlip lampu di lembah dago
lebih punya arti
namun hanya seleret cemara
mengurai makna airmata
meleleh pada jarak dan jejak kita
2005
Menjaga Malam Braga
di braga
malam belum hablur
dan lampu-lampu belum tidur
masih berjaga bersama hingar
musik pub dan kafe
trotoar ngelindur
mabuk wangi
di bawah atap kedai
kau melamun sendiri
menunggu pagi
mengakhiri mimpi
penghuni kota bunga
dan gedung-gedung sisa kolonial
anggun merangkum malam
apa makna puisi
bagi pejalan kaki
sihir lampu iklan
masih mengikuti bayang diri
hingga ke sudut-sudut gang kota
“di braga, lukamu tak akan sempurna,”
bisikmu
aku rindu braga
entah mengapa
kau menjaga
luka yang lena
2005
Requiem Juni
–untuk diriku–
dalam kamar sempitmu
apa yang kau pahami
kau tak memiliki apa-apa lagi
seperti kembali ke dalam rahim
ke mula asal
suara parau burung hantu
seperti luka masa lalu
dan langit itu juga
adalah langit sebelum kau
mencium tanah dengan hati luluh
mata betina berkali-kali memukaumu
kau merasa menemukan nirwana di situ
pada bibir ranum
pada payudara padat
pada pinggul bulat
kau tenggelamkan diri dalam kolam lumpur
menyusup ke celah kelopak seroja merah muda
kau hanya noktah
pada hamparan semestamu
dalam kamar sempitmu
kau menyulap diri jadi pertapa bisu
kitab-kitab sajakmu telah rapuh
mengapa kau masih bersikukuh
ingin mengekalkan waktu
dalam kerumunan kenangan
yang kelak akan musnah
serupa kepiting tua
kau hanya mampu berlindung pada kulit kerasmu
namun jiwamu rapuh pada sekeliling
seperti penyu
kau sembunyikan kepala dalam tempurung
apa dayamu, o, si lugu biru
seorang pandir menghujatmu:
“penyembah berhala,
pemakan babi,
pezinah pelacur…”
tapi kau terus memburu cahaya
dalam lubang hitam semesta
sebab kitab-kitab agama
tak lagi bermakna
bagi pengembara abadi
matamu adalah langit
jiwamu lautan biru
aku semayam dalam ruhmu
kau senyawa dalam diriku
2005
Suatu Waktu Aku Tiba di Rotterdam
helena…helena…
suatu waktu aku ‘kan tiba di rotterdam
mengunjungimu dengan seluruh rindu
saat musim semi mekar demi janji
kita berperahu sejauh alur sungai
aku mendayung, terus mendayung
kau senyum menatap kawanan angsa
yang bercumbuan mesra
hingga lesung pipimu lembut merona
bikin aku gemas karena cinta
siapa yang bisa menduga
kau dan aku dipertemukan
sehelai kartu pos
bergambar bunga-bunga tulip merekah
sejenak kita abaikan waktu, sang guru
yang mengajari kita banyak rahasia itu
kita menyelinap ke gang-gang kota
mampir di kedai-kedai sederhana
minum anggur sambil saling membaca harapan
pada matamu yang bagai lautan tak terduga
pada mataku yang letih karena insomnia
bergandengan tangan kita susuri trotoar yang ramah
tawar menawar dengan pedagang-pedagang cindramata
kau tentu suka kalung manik-manik
yang dijulurkan si gadis gipsy itu
di lehermu yang jenjang
yang lekuk dan likunya tak jenuh kujelajahi
manik-manik itu berkilau
lebih sempurna dari cahya senja
lebih sumringah dari semerbak bunga
hingga urat biru di bening kulitmu
jadi makin bermakna
helena…helena…
suatu waktu aku ‘kan tiba di rotterdam
sekuntum bunga margot kusematkan
di rambutmu yang blonda
dan kita bercinta dalam telaga
bagai sepasang angsa kasmaran
2006
Kucumbui Kau di Hampar Pasir
kucumbui kau di hampar pasir
desah buih serupa lenguhmu
apa yang kita buru?
waktu akan segera berlalu
dari matamu yang senantiasa
memeram muram
namun kau tertawa menatap langit malam
betapa indah kelam lautan, katamu
tahukah kau,
gempa akan segera meniadakan kita
menumpas kita hingga tandas
dan kematian begitu sederhana
begitu mudah
tanpa kita sempat mengaduh
selalu saja kucumbui kau
di hampar pasir
hingga maut hampir mampir
di celah bibirmu
yang merekah indah
seindah kematian itu…
2006
Lima Ribu Depa dari Amlapura
lima ribu depa dari kota tua amlapura
ada sebongkah batu yang ditatah gurat-gurat aksara
batu yang dicerabut dari kebisuannya
batu yang dianugrahi tahta di istana airmata
taman tirtagangga
bulan kuning langsat yang menggeliat di celah bukit
di hampar lembah yang dihuni malam dan sawah
cahaya kunang-kunang merambat dari kalbu langit
mencoba meraba aksara
yang digurat pujangga tirtagangga
lima ribu depa dari kota tua amlapura
bayi-bayi puisi lahir dari kedalaman hati
dari sunyi yang kau peram
sejak mula pertama kita berjumpa kata
namun dingin dan malam telah menyusup
di daun-daun pakis, kerak-kerak pohon kamboja,
anggrek ungu dan rindu melumut
lima ribu depa dari kota tua amlapura
cintaku, adakah yang lebih pedih
dari kehilangan cinta?
langit telah sempurna kelabu
suara serangga dan kodok hijau
telah menuntaskan mimpimu
yang penuh pijar aksara dan igau
aroma tuak kelapa
2006
Tirtagangga
taman air yang disepuh purnama
memudarkan bayang wajah hamba
yang gagu meraba cahaya
senja terakhir telah tiba
di haribaan malam
namun hamba masih bisa mendengar
suara tabuh genjek yang menjalar
dari bibir anak-anak desa
hamba tepekur
di pelataran paduka ratu
menghayati sepi yang tiba tertatih
merambati jiwa yang telah paripurna
paduka ratu junjungan hamba
mesti berapa penjelmaan lagi hamba lalui
untuk sampai pada jiwamu
laksana pucuk-pucuk pohon angsana
hamba gugur daun
bunga dari segala bunga yang paling sempurna
telah hamba jalin untuk penghias
semerbak rambut paduka ratu
buah dari segala buah telah hamba sajikan
sebagai penutup makan malam paduka
kutukan apa gerangan
yang menjadikan hamba budak
hamba ingin kembali pada perjumpaan pertama
ketika tiada dosa dan ampunan
yang menguntit hayat kita
2006
Capung Sayap Ungu
-buat: Feybe Mokoginta-
capung sayap ungu yang bertengger
di atas daun teratai
adakah itu bayanganmu
yang menujumku begitu rupa
dengan secercah cahaya keabadian
yang diturunkan langit warna abu
alir air adalah jalan terakhir
bagi kura-kura tua
yang semadi di selokan
di rerimbun belukar
apakah yang sisa dari daun waru
yang gugur di ujung waktu
kecuali sebait mantra
yang hilang makna
capung sayap ungu
dan segurat bayangan…
seperti kenangan yang punah
di hari ketujuh
2006
Arak dan Malam
seguci arak di meja kayu
malam makin mengendap dalam jiwaku
kegelapan telah melingkupi persawahan
kerlip kunang-kunang bercampur aroma lumpur
kidung serangga hutan adalah kepedihan
yang dipersembahkan malam
ketika peri-peri kecil
dengan payudara mungil
dan tubuh menggigil
mengunjungiku
aku tergetar
menahan getir
yang menjalar
dari sumsum nadir
kelopak-kelopak malam gugur di halaman
hari-hari kujalani dengan nyanyian kodok
dan ricik air yang berdenting bagai genta pendeta
di manakah akhir setapak yang kulalui?
inikah jalan takdir
yang pernah dinujumkan
para brahmana?
dari kejauhan, seribu depa
di seberang persawahan
suara kidung merambat pelan
bersama dingin halimun
seperti merasuki jiwa para pengembara
yang lupa kampung halaman
di meja kayu
arak nyaris tandas
dan kunang-kunang
begitu sempurna cahaya
2006
Malam-malam Mabuk di Tirtagangga
lampu-lampu jalan mengambang
dalam petikan gitar tua
seperti mengalunkan rindu
yang diperam angin lembah
seorang gadis prancis
menenggak arak campur coca-cola
bibirnya yang manis
menyisakan jejak kenangan pada gelas
malam yang hijau mampir
ke meja kayu
si gadis prancis melempar igau
ada kutemu duka
mengendap pada biru matanya
malam memanjat bukit
denting gitar mengiringi setapak langkah
terseok menuju homestay
aku oleng, si prancis kemoleng
tanganku membelit pinggangnya ramping
sambil ngoceh dia mengutuki bintang
dan kunang-kunang
siang menjelang ditingkahi teriakan pengusir burung
dari jendela membentang sawah menguning
angin gunung mengurai rambut separuh pirang
si prancis yang molek tergolek di ranjang
pinggulnya sempurna bagai lekuk gitar
membuat mata jadi nanar
payudaranya menggoda penuh mukjizat
bagai buah khuldi
puting merah muda merekah indah
di siang yang pasrah
waktu jadi lamban dan malas
si gadis prancis menggeliat
matanya setengah terbuka
bibir tipisnya aroma arak
si manis prancis masih mengigau:
“di mana saya,
mau ke mana saya?”
2006
Impian Usai
impian usai di akhir
napak tilas yang bergegas
gagu meraba getir takdir
galau membaca jejak aksara di tapak tangan
ingatkah kau pada pasir yang mampir dan
terlunta di bening gelas anggurku?
perempuan tuntas membekas pada jiwa
usia dan tahun tiba sebelum senja
tinggal kenangan, selalu kenangan
rekah dan sumringah bagai geliat pandan
ingin membawa kita meretas
abadi dalam pasang surut musim
mimpi terpanjangku adalah keheningan
angan yang menyesatkan pengembara pada
rahasia cuaca dan getar cahaya
guratkan lagi aksara penghabisan
agar sempurna kepedihan demi kepedihan
2006
Surat dari Rumah Pantai
-untuk unan-
wahai perempuan bertudung sepi
akhirnya aku kembali ke rumah pantai
ombak berkali-kali membujukku
dengan desah dan lenguh memabukkan
erang pun bergema dari cangkang kerang
wangi bunga pandan bagai aroma pipimu
urailah rambutmu agar angin garam membelainya mesra
lalu senyumlah padaku yang lenyap dalam pelukan samudera
agar tentram jiwamu menatapku lekang
namamu, namaku, mungkin akan abadi di setiap dermaga
rumah pantai telah menerimaku dengan keteduhannya
aku ‘kan bermukim di situ bersama ubur-ubur dan hiu biru
tak perlu lagi kau risaukan aku
nelayan-nelayan bermata cahaya jadi kawan karibku
aku telah menggadaikan jiwaku pada peri laut penipu
2006
Sindhu
-buat: i.p.m-
di sindhu
selembar daun waru
menyerpih
menjadi 17 suku kata
pada putih pasir
yang mengulum buih air
kau sebut itu
haiku yang menunggu
kehadiranmu
puisi dengan cahaya pelita pudar
mendadak lepas dari kilau tatap matamu
bagai mutiara yang hampir matang
kau rampungkan hening
dalam nyaman cangkang kerang
namun, di sindhu
yang sisa hanya lagu bisu
dan haiku
menyimpan rahasia
daun waru tua
2006
Perahu Tua
perahu tua yang sendiri di laut raya
adakah halimun melingkupimu
saat waktu-waktu biru mengukir batas
pada warna ombak beralun-alun
atau bayang bebukitan
di kejauhan
perahu tua yang sendiri terlunta
pada hampar samudera tersepuh cahaya
di manakah akhir pelayaran
dermaga demi dermaga
telah menambatkan usia
dan juga dosa
tapi belum juga kau tahu
di mana pulau itu berada
perahu tua yang telah menjelajahi
segala cuaca dan wangi musim
kau pilih laut itu
sebagai kuburan abadimu
camar-camar dan elang laut akan singgah
melepas letih di tiang-tiang layarmu
yang setengah patah
dan ikan-ikan beranak pianak di lapuk lambungmu
perahu tua, perahu tua
kurayakan masa lalumu
dengan kidung kerang selepas senja
dan mimpi-mimpi indah terumbu karang
2006
Taman Silam
hari mengalir dari lipatan tanganmu
hanyut dalam sungai silam
membentangkan secarik taman
menjelma seserpih kisah
di bawah rimbun pepohonan
di antara reruntuhan petilasan tua
kau mengubur air mata
sebab kitab-kitab aksara
atau lembar-lembar gambar
entah bermakna apa
nyaris lapuk di ujung penantianmu
tunjukkan aku sehelai rupa
atau segurat kata
yang mampu menyihir jiwaku
agar kembali aku padamu
tapi masih saja kau gagu di taman itu,
taman yang ribuan tahun memberkatimu
dengan keindahan sekaligus kepedihan
taman seserpih kisah
yang diramu sang pemilik abadi waktu
sia-sia menunggu
jiwa-jiwa galau
kau lepas, aku tandas
di sungai tak berbatas
di taman tak berbekas
hanya desis ular
menjalar dari rimbun belukar
siaga mematuk resahmu,
gelisahmu,
keluhmu,
dungumu…
2006
BIODATA
Wayan Sunarta, akrab dipanggil Jengki, lahir di Denpasar, 22 Juni 1975. Menyelesaikan studi Antropologi di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Sempat mencicipi studi seni lukis di ISI Denpasar. Mulai belajar menulis puisi sejak awal tahun 1990-an. Belakangan kemudian menulis cerpen, feature, resensi, esai dan ulasan/kritik seni rupa.
Puisi-puisinya tersebar di media massa lokal dan nasional, antara lain: Bali Post, Suara Merdeka, Lampung Post, Pikiran Rakyat, Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, Jurnal Kalam, Jurnal Sundih, Majalah Horison, Majalah Gong. Juga bisa ditemui dalam 23 antologi puisi bersama, di antaranya: Bonsai’s Morning (Matamera, Denpasar, 1996), Antologi Puisi Indonesia (Angkasa Bandung, 1997), Bali The Morning After (Darma Printing, Australia, 2000), Puisi Tak Pernah Pergi (Kompas, 2003), Malaikat Biru Kota Hobart (DKJ, 2004), Maha Duka Aceh (Pusdok.HB Jassin, 2005), Jogja 5,9 Skala Richter (Bentang Pustaka, 2006). Beberapa puisinya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Vern Cork dan Italia oleh Gioia Risatti.
Peraih Krakatau Award 2002 dari Dewan Kesenian Lampung ini, beberapa kali pernah diundang membaca puisi pada acara-acara sastra penting, antara lain: Panggung Puisi Indonesia Mutakhir 2003 di Teater Utan Kayu Jakarta, Cakrawala Sastra Indonesia 2004 di TIM Jakarta, Ubud Writer & Reader International Festival 2004 di Bali, Temu Sastra Mitra Praja Utama II 2006 di Sanur-Bali, Festival Kesenian Yogyakarta 2007, Lampung Art Festival 2007. Tahun 2004, sebuah cerpennya meraih penghargaan Cerpen Pilihan Kompas dan Cerpen Terbaik Kompas versi Sastrawan Yogyakarta.
Buku kumpulan puisinya adalah Pada Lingkar Putingmu (Bukupop, Jakarta, 2005), Impian Usai (Kubu Sastra, Agustus 2007) dan Malam Cinta (Bukupop, Desember 2007). Sedangkan buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Cakra Punarbhawa (Gramedia, 2005) dan Purnama di Atas Pura (Grasindo, 2005). Sebagai penulis/sastrawan berprestasi, ia dianugerahi Penghargaan Widya Pataka 2007 oleh Gubernur Bali.
Kini ia bekerja sebagai Koordinator Program Budaya di Yayasan Metropoli Indonesia yang berpusat di Desa Ababi, Karangasem, Bali.
Alamat : Jl. Kroya No 12 Denpasar Timur, Bali.
Email : myjengki@yahoo.com
Web : www.jengki.com
HP : 081 338 084 585